Text Size

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

User Rating: / 0
PoorBest 
Mulai tanggal 7 Juli kemarin, sampai 21 Juli 2009 mendatang, PPI Jepang sedang diramaikan dengan pesta demokrasi calon-calon ketua yang berkampanye ataupun dikampanyekan. Ya, mungkin terlalu membesar-besarkan jika saya katakan Jepang mengingat hanya partisi kecil yang “terlihat ramai”. Sepertinya memang sebagian besar orang-orang yang seharusnya menjadi anggota karena sama-sama pelajar Indonesia di jepang malah tidak tahu. Miris memang.. tapi gambaran serupa juga kita dapatkan ketika berkaca pada (yang katanya) politik di Indonesia. Ramai itu kampanye, dengan ratusan banner terpampang di berbagai penjuru, ribuan stiker yang tertempel di berbagai lokasi mulai dari dudukan becak, terpal warung, pintu angkot, sampai tembok-tembok perusahaan (yang ini biasa tidak bertahan lama). Tapi toh..gembar-gembornya itu hanya sampai kampanye berakhir saja.

Umumnya, di waktu kampanye semacam ini, berbagai janji-janji manis dilontarkan.. cuah cioh cueehh... sampai muncrat semua  ludah-ludah saking semangatnya menceritakan calon pemimpin yang diusung. Berbagai hadiah juga disampaikan ke berbagai pihak, katanya sih “upeti awal”. Sayangnya, ketika akhirnya pemimpin ini tidak terpilih.. kekecewaan terjadi.. tidak jarang upeti-upeti itu diambil kembali. Sekarang penonton yang kecewa deh...

Okelah kalau beberapa orang memang demikian adanya.. berinvestasi “jual kepercayaan lewat janji dan sedikit materi” untuk memperoleh kedudukan yang entah apa tujuannya dan ketika gagal, investasinya dicabut kembali, menjilat ludah demi bertahan hidup karena besar pasak daripada tiang untuk kampanye. Lantas, bagaimana dengan pemimpin yang sudah terpilih? Apakah mulut yang berbusa-busa itu sekarang menjadi keringat yang membasahi tubuh karena kerja keras menepati janji??? Atau justru menjadi kering karena menikmati ke’empuk’kan tempat duduk dan hembusan AC yang sejuk?? Kira-kira bagaimana ya perbandingan antara pemimpin tipe 1 dan tipe 2 ini?

Apapun itu.. banyak dari kita, dari rakyat, lelah dengan janji.. lelah dengan berbagai visi misi yang manis di telinga tapi membakar amarah ketika semua itu hanya “janji palsu bibir beracun”. Lelah mendengar orang-orang datang mempromosikan sesorang yang bahkan dengar namanya pun belum selesai. Kata anak muda Jakarta, “Siape elu?!”

Tapi teman-teman, sadar tidak sih, kalau hal di atas terjadi karena adanya krisis kepemimpinan? Bahwa terlalu banyak kekecewaan yang terjadi? Dan sebaliknya, sadar tidak sih bahwa “krisis” itu bukan berati “tidak ada atau nol atau nihil”? dan bahwa kekecewaan kita mungkin malah “menghalangi”  pemimpin besar untuk berkarya? Sama sekali bukan maksud saya untuk kita mempersilakan siapapun yang mau maju jadi pemimpin.. Lihatlah mereka, kritik mereka, hancurkan rancangan program kerja mereka jika memang itu tidak membangun! Tapi BUKAN dengan tidak peduli.. menutup mata, telinga, dan mulut bagai lambang tiga monyet yang populer di Negeri Sakura ini.. BANTU yang terpilih untuk bisa menjalankan program yang baik itu. Mungkin saja KAMU adalah orang yang paling tepat untuk menjalankan salah satu programnya..  Acungkan tangan dan katakan, “Saya mau bantu di program ini..”

Sampai kapan kita mau diam dan tidak peduli melihat bangsa ini menangis mengais tanah? Sampai kapan ... Kami bergerak di sini bersama Farid Triawan, bagaimana dengan kamu?

"BERIKAN AKU 10 PEMUDA MAKA AKAN KUGUNCANG DUNIA"- Ir. Soekarno

 

Comments
Search
Only registered users can write comments!

!joomlacomment 4.0 Copyright (C) 2009 Compojoom.com . All rights reserved."

Site Login